RINGKASAN ISI BUKU
BAB I
PENDAHULUAN
Kehadiran agama islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Diyakini dapat
menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin.
Didalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu
menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas
luasnya.
Petunjuk petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia,
sebagaimana terdapat didalam sumber ajarannya, Al Qur’an dan hadits, tampak
amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif,
menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa
mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka,
demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti feodalistik,
mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia, dan sikap
sikap positif lainnya.
Sebenarnya dalam ajaran agama islam itu mayoritas ajarannya mengacu
kepada masalah sosial. Bahkan dalam suatu penelitian disimpulkan bahwasnya
alqur’an memiliki empat hal yang bertemakan tentang kepedulian sosial. Pertama
dalam al qur’an dan hadis proposial terbesar ditujukan kepada masalah sosial,
kedua dalam kenyataan bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan
muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tapi
tidak ditinggalkan). Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan
diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan.
Keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal karena
melanggar pantangan tertentu, maka kafaratnya ialah melakukan susuatu yang
berhubungan dengan masalah sosial.
Namun yang sangat mengecewakan, kenyataan islam sekarang ini
menampilkan keadaan yang jauh dari cita ideal tersebut. Ibadah yang dilakukan
umat islam seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya hanyalah sekedar
kewajiban yang harus dilaksanakan dengan tanpa ada nilai dimensi lain yang
merupakan buah dari ibadah tersebut terutama dalam masalah sosial. Sehingga
seolah olah agama hanyalah urusan individu, penyelamatan individu tanpa ada
keberkahan sosial. Dan seakan akan agama bahkan tuhan sekalipun tidak hadir
dalam problematika sosial kita walaupun nama-Nya sering kita dengarkan
berkumandang dimana mana.
Syafi’i ma’arif dalam suatu kesempatan mengatakan bahwasanya
penyebab dari kesenjangan antara citra islam dengan kenyataannya adalah yang
pertama karena kualitas keagamaan umat yang masih rendah. Menurutnya proses
islamisasi sesungguhnya secara kualitatif belum pernah mencapai tingkatnya yang
sempurna, yang kedua cara umat islam sendiri yang keliru dalam memahami islam,
Islam yang muatan ajaran banyak berkaitan dengan masalah masalah sosial ternyata
belum dapat diangkat kepermukaan disebabkan metodee dan pendekatan yang kurang
komprehensif atau menyeluruh.
Mukti ali juga mengatakan bahwasanya jika kita mempelajari cara
orang dalam mendekati agama islam maka kita akan melihat tiga cara yang jelas
tampak. Yang pertama adalah secara naqli (tradisional), yang kedua adalah
pendekatan secara aqli (rasional), dan yang ketiga adalah pendekatan secara
kasyf (mistis). Padahal dalam memahami agama itu harusnya ketiga cara
pendekatan tersebut harus digunakan secara serempak, bukan terpisah pisah.
Dan ternyata menurut sebuah penelitian menyatakan bahwa ternyata
mayoritas studi islam hanya berorientasi untuk terciptanya lulusan yang dapat
menghafal ajaran agama, tetapi tidak mampu mengembangkannya.
Maka dari itu melalui buku ini penulis mencoba membawa pembaca
untuk memiliki wawasan yang utuh dan integral tentang islam, juga dapat
mengembangkannya. Untuk itu masalah metode dan pendekatan dalam seluruh aspek
ajaran islam dikemukakan dalam buku ini.
Selanjutnya buku ini juga mengemukakan telaan konstruksi teori
penelitian agama berikut berbagai pendekatan dan teori teori yang digunakan
dengan merujuk kepada pakar yang ahli dalam bidangnya., juga mengemukakan
deskripsi tentang model penelitian tafsir, hadis, kalam, filsafat, tasawuf,
fikih, politik, pendidikan islam, sejarah, pemikiran modern, dalam islam,
antropologi, dan sosial agama.
KEBUTUHAN
MANUSIA TERHADAP AGAMA
Pengertian
agama
a.
Secara
etimologi (kebahasaan).
Mengartikan
agama dari sudut kebahasaan akan terasa lebih mudah daripada mengartikan agama
dari sudut istilah karena pengertian agama dari sudut istilah ini sudah
mengandung muatan subjektivitas dari oang yang mengartikannya. Lain halnya
dengan dari segi bahasa, pengertian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti
antara lain uraian yang diberikan harun nasution. Menurutnya, dalam masyarakat
indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata “din” dari bahasa arab dan
kata religi dalam bahasa eropa. Ia mengatakan bahwa agama dari bahasa sanskerta
tersusun dari 2 kata yaitu a=tidak dan gam =pergi, jadi agama artinya tidak
pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun. Hal menunjukkan pada
salah satu sifat agama yaitu diwarisi secara turun temurun dari satu generasi
ke generasi lainnya. Kemudian ada yang mengatakan artinya adalah teks dan kitab
suci, tuntunan yang berarti tuntunan
bagi kehidupan manusia.
Selanjutnya
din dalam bahasa semit berarti undang undang atau hukum. Dalam bahasa arab kata
ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, dan
kebiasaan.
Sedangkan
kata religi berasal dari kata relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan
membaca. Pengertian demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung
kumpulan cara cara mengabdi kepada tuhan yan gterkumpul dalam kitab suci yang
harus dibaca, tetapi ada juga yang mengatakan arti dari relegere adalah
mengikat.
Dan
dari beberapa definisi berikut, akhirnya harun nasution menyimpulkan bahwa
intisari yang terkandung dalam istilah istilah diatas ialah ikatan. Agama
memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan
ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari hari.
Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu
kekuatan ghaib yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera.
b.
Secara
terminologi
Adapun
pengertian agama dari segi istilah dapat dikemukakan sebagai berikut.
Elizabet nottingham dalam bukunya agama
dan masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gejala yang begitu sering
terdapat dimana mana sehingga sedikit membantu usaha usaha kita untuk membuat
abstraksi ilmiah. Lebih lanjut Nottingham mengatakan bahwa agama berkaitan
dengan usaha usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya
sendiri dan keberadaaan alam semesta. Agama telah menimbulkan Khayalnya yang
paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar
biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang
paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri. Dan durkheim mangatakan
bahwa agama adalah pantulan dari solidaritas sosial. Bahkan kalau dikaji,
katanya, tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat.
LATAR
BELAKANG PERLUNYA MANUSIA TERHADAP AGAMA
Ada
tiga alasan yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama. Ketiga
alasan tersebut adalah:
a)
Latar belakang
fitrah manusia
b)
Kelemahan dan
kekurangan manusia
c)
Tantangan
manusia
BAB II
BERBAGAI PENDEKATAN DIDALAM MEMAHAMI AGAMA
a.
Pendekatan
teologis normatif
Yaitu upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan
yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu agama diaggap
sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.
b.
Pendekatan
antropologi
Yaitu salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud
praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
c.
Pendekatan
sosiologis
Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami masalah agama dapat
dipahami karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah
sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya
mendorong kaum agamawan memahami ilmu ilmu sosial sebagai alat untuk memahami
agama.
d.
Pendekatan
filosofis
Arti dari filsafat adalah sebuah upaya untuk menjelaskan inti,
hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek formanya.
Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat dibalik
yang bersifat lahiriyah. Maka dari itu filsafat dapat digunakan dalam memahami
ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama
dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.
e.
Pendekatan
historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas
berbagai peristiwa dengan memperhatikan
f.
Pendekatan
kebudayaan
g.
Pendekatan
psikologi
PANDANGAN
AJARAN ISLAM TENTANG ILMU SOSIAL
Sejak kelahirannya belasan abad lalu, islam telah tampil sebagai
agama yang memberi perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat,
antara hubungan manusia dengan Tuhan, antara hubungan manusia dengan manusia,
dan antara urusan ibadah dengan urusan muamalah.
Selanjutnya jika kita adakan perbandingan antara perhatian islam
terhadap urusan ibadah dengan urusan muamalah, ternyata islam menekankan urusan
muamalah lebih besar daripada urusan ibadah dalam arti yang khusus. Islam lebih
banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual.
Islam adalah agama yang menjadikan seluruh bumi sebagai masjid tempat mengabdi
kepada allah dalam arti luas. Muamalah jauh lebih luas daripada ibadah dalam
arti yang khusus.
Keterkaitan agama dengan masalah kemanusiaan sebagaimana tersebut
menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan dizaman modern ini.
Kita mengetahui bahwa dewasa ini manusia menghadapi berbagai macam persoalan
yang benar benar membutuhkan pemecahan segera. Kadang kadang kita merasa bahwa
situasi yang penuh dengan problematika di dunia modern justru disebabkan oleh
perkembangan pemikiran manusia sendiri. Dibalik kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat
menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil mengorganisasikan
ekonomi, menata struktur politik, serta membangun perdaban yang maju untuk
dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama, kita juga melihat bahwa umat
manusia talah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri. Sejak manusia
memasuki zaman modern mereka mampu mengembangkan potensi potensi rasionalnya,
mereka memang telah membebaskan diri dari belenggu pemikiran mistis yang
irrasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang sangat mengikat kebebasan manusia.
Tetapi ternyata di dunia modern ini manusia tak dapat melepaskan diri dari
jenis belenggu lain, yaitu penyembahan kepada hasil ciptaannya sendiri.
Dalam keadaan demikian, kita saat ini nampaknya sudah mendesak
untuk memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari
bebagai problema tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksudkan adalah ilmu
pengetahuan yang digali dari nilai nilai agama. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai
ilmu sosial profetik.
PENGERTIAN
DAN SUMBER AJARAN ISLAM
Dari segi bahasa islam berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata
salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima
selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam
kedamaian.
Adapun pengertian islam dari segi istilah akan kita dapati rumusan
yang berbeda beda. Dan dari berbagai pendapat yang bermacam macam itu dapat
diambil kesimpulan bahwasanya pengertian islam secara istilah mengacu kepada
agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah SWT. Bukan berasal dari
manusia, dan bukan pula berasal dari nabi Muhammad SAW. Posisi nabi dalam agama
islam diakui sebagai yang ditugasi oleh allah untuk menyebarkan ajaran islam
tersebut kepada umat manusia. Dalam proses penyebaran agama islam, nabi
terlibat dalam memberi keterangan, penjelasan, uraian, dan contoh praktiknya.
Namun keterlibatan ini masih dalam batas batas yang dibolehkan Tuhan.
SUMBER
AJARAN ISLAM
Diantara sumber agama islam adalah:
a)
Al Qur’an
b)
As Sunnah
KARAKTERISTIK
AGAMA ISLAM
a.
Dalam bidang
agama
Karakteristik agama islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran,
pemaaf, tidak memaksakan, dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama
tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian kepada tuhan.
b.
Dalam bidang
ibadah
Visi islam tentang ibadah adalah merupakan sifat, jiwa, dan misi
ajaran islam itu sendiri yang sejalan dengan tugas penciptaan manusia, sebagai
makhluk yang hanya diperintahkan agar beribadah kepadanya.
c.
Dalam bidang
akidah
Akidah dalam agama islam bukan sekedar keyakinan dalam hati,
melainkan pada tahap selanjutnya harus menjadi acuan dan dasar dalam bertingkah
laku, serta berbuat yang pada akhirnya menimbulkan amal saleh.
d.
Bidang ilmu dan
kebudayaan
Karakteristik islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan
tersebut dapat pula dilihat dari lima ayat pertama dari surat al alaq. Iqro
dalam ayat ini bukan hanya berarti membaca tetapi juga berarti menelaah
mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendiskripsikan, menganalisis, dan
penyimpulan secara induktif. Islam dengan demikian kuatnya mendorong manusia
agar memiliki ilmu pengetahuan dengan cara menggunakan akalnya untuk berfikir,
merenung, dan sebagainya. Demikian pentingkan ilmu ini hingga islam memandang
bahwa orang menuntut ilmu sama nilainya dengan jihad dijalan allah.
e.
Bidang
pendidikan
f.
Bidang
kehidupan ekonomi
g.
Bidang
kesehatan
h.
Bidang politik
i.
Bidang
pekerjaan
j.
Islam sebagai
disiplin ilmu
Dan
dari semua itu agama islam memiliki karakteristik tersendiri yang tidak
dimiliki oleh agama agama selain agama islam.
MISI
AJARAN ISLAM
Terdapat sejumlah argumentasi yang dapat digunakan untuk menyatakan
bahwa misi ajaran islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Argumentasi
tersebut diantaranya:
a)
Untuk
menunjukkan bahwa islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari pengertian
islam itu sendiri. Kata islam makna aslinya masuk dalam perdamaian, dan orang
muslim ialah orang yang damai dengan allah dan damai dengan manusia.
b)
Misi ajaran
islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam dapat juga dilihat dari peran
peran yang dimainkan islam dalam menangani berbagai problematika agama, sosial,
ekonomi, politik, hukum, pendidikan,
kebudayaan, dan sebagainya.
c)
Misi islam
dapat juga dilihat dari misi ajaran yang dibawa dan dipraktikan oleh Nabi
Muhammad SAW.
d)
Misi islam
selanjutnya dapat pula dilihat pada kedudukannya sebagai sumber nilai dan
pandangan hidup manusia.
e)
Misi ajaran
islam sebagai pembawa rahmat dapat pula dilihat dari peran yang dimainkannya
dalam sejarah.
f)
Juga dapat
dilihat dari praktik hubungan islam dengan penganut agama lain.
METODOLOGI PEMAHAMAN ISLAM
KEGUNAAN
METODOLOGI
Untuk
mencapai suatu kemajuan, kejeniusan saja belum cukup, melainkan harus
dilengkapi dengan ketepatan memilih metode yang akan digunakan untuk kerjanya
dalam bidang pengetahuan. Metode dan berpikir yang benar tak ubahnya seperti
orang yang berjalan. Seorang yang lumpuh sebelah kakinya dan tidak dapat
berjalan dengan cepat, tetapi memilih jalan yang benar akan mencapai tujuannya
lebih cepat daripada jago lari yang mengambil jalan yang terjal lagi berkelok
kelok. Betapapun cepat jago lari tersebut, ia akan datang pada terpat yang
dituju, sedangkan orang yang lumpuh sebelah kakinya yang memilih jalan yang
benar akan sampai kepada tujuan dengan segera. Selain itu penguasaan metode
yang tepat dapat menyebabkan seseorang mengembangkan ilmu yang dimilikinya.
Sebaliknya mereka yang tidak menguasai metode hanya akan menjadi konsumen ilmu,
dan bukan menjadi produsen.
STUDI
ISLAM
Banyak
orang berselisih pendapat apakah islam itu termasuk kedalam sains atau ilmu
pengetahuan. Mengingat sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan
agama berbeda. Ilmu pengetahuan dapat dikritisi, sedangkan agama dengan alasan
apapun tidak dapat dikritik karena merupakan ajaran dari tuhan yang memiliki
kebenaran yang mutlak tidak relatif.
Sehingga
muncullah pendapat yang memisahkan atau membedakan antara sains islam dengan
studi islam. Sains islam mencakup berbagai pengetahuan modern seperti
kedokteran, astronomi, matematika, fisika, dan sebagainya yang dibangun atas arahan
nilai nilai islami. Sementara studi islam adalah pengetahuan yang dirumuskan
dari ajaran islam yang dipraktikkan dalam sejarah dan kehidupan manusia, sedang
pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran ajaran
allah dan Rasulnya secara murni tanpa dipengaruhi sejarah, seperti ajaran
tentang akidah, ibadah, membaca al Qur’an dan akhlak.
METODE
MEMAHAMI ISLAM
Berbagai pendapat diajukan untuk metode memahami islam diantaranya
metode yang digunakan oleh ali syari’ati. Ia mengatakan bahwasanay cara
memahami islam salah satunya ialah dengan mengenal allah dan membandingkannya
dengan sesembahan agama lain. Cara lainnya ialah dengan mempelajari kitab
alqur’an dan membandingkannya dengan kitab-kitab samawi lainnya. Tetapi ada lagi
cara lain yaitu dengan mempelajari kepribadian rasul islam dan membandingkannya
dengan tokoh tokoh besar pembaruan yang pernah hidup dalam sejarah. Akhirnya
ada satu cara lagi ialah dengan mempelajari tokoh tokoh islam terkemuka dan
membandingkannya dengan tokoh tokoh utama agama maupun aliran aliran pemikiran
lain.
Selain menggunakan pendekatan komparasi, ali syari’ati juga
menawarkan cara memahami islam melalui pendekatan aliran. Dalam hubungan ini,
ia mengatakan bahwa tugas intelektual hari ini adalah mempelajari dan memahami
islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia,
perseorangan maupun masyarakat. Dan bahwa sebagai intelektual dia memikul
amanah demi masa depan umat manusia yang lebih baik. Dia harus menyadari tugas
ini sebagai tugas pribadi dan apapun bidang studinya dia harus senantiasa
menumbuhkan pemahaman yang segar tentang islam dan tentang tokoh tokoh besarnya
sesuai dengan bidangnya masing masing.
Sedangkan nasruddin razak mengemukakan pendapatnya. Ia menawarkan
metode pemahaman islam secara menyeluruh. Menurutnya bahwa memahami islam
secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Begitulah cara
paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi
pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap hormat bagi pemeluk agama
lainnya. Dan untuk memahami islam secara benar nasruddin Razak mengajukan 4
cara:
a.
Islam harus
dipelajari dari sumber yang asli, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah Rasulullah.
b.
Islam harus
dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara
sebagian saja.
c.
Islam perlu
dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zuama dan
sarjana-sarjana islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman islam yang
baik.
d.
Islam hendaknya
dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam al qur’an, baru
kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang
ada di masyarakat.
Selain itu mukti ali juga mengajukan pendapat tentang metode
memahami islam sebagaimana yang dikemukakan ali Syari’ati yang menekankan
pentingnya melihat islam secara menyeluruh. Ia juga mengatakan apabila kita
melihat islam hanya dari satu segi saja, maka kita hanya akan melihat satu
dimensi dari fenomena fenomena yang multifaset, sekalipun kita melihatnya itu
betul. Islam menurutnya harus dipahami secara bulat, yaitu pemahaman islam yang
dilakukan secara komprehensif. Metode lain untuk memahami islam yang diajukan
Mukti ali adalah metode tipologi. Metode ini oleh banyak sekali ahli sosiologi
dianggap objektif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu
dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Dari uraian
yang ada diatas dapat kita simpulkan bahwasanya metode yang dapat digunakan
dalam memahami islam secara garis besar ada dua macam. Pertama, metode
komparasi yaitu suatu cara memahami agama
dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama islam tersebut
dengan agama lainnya, dengan cara demikian akan dihasilkan pemahaman islam yang
objektif dan utuh. Kedua, metode sintesis, yaitu suatu cara memahami islam yang
memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, objektif,
kritis, dan seterusnya dengan metode teologis normatif.
ISLAMISASI
ILMU PENGETAHUAN
Memasuki abad kedua puluh masehi, keadaan dunia ditandai oleh
kemajuan yang dicapai oleh barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
dengan segala implikasinya, yaitu berupa penjajahan mereka atas dunia islam.
Negara negara yang dahulu masuk ke dalam hegemoni islam seperti spanyol, india,
sisilia, dan sebagainya sudah mulai melepaskan diri dari islam dan berdiri
sendiri sebagai negara yang sepenuhnya berada diluar ideologi islam. Demikian
pula negara negara yang sepenuhnya dikuasai islam juga sudah banyak yang
menjadi jajahan bangsa bangsa lain. Negara negara tersebut antara lain mesir,
turki, malaysia, dan Indonesia.
Menghadapi keadaan yang demikian itu, umat islam mencari sebab
sebabnya. Sebab sebab tersebut yang utama diantaranya karena umat islam
tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya perpecahan.
Dikalangan umat islam paling kurang timbul tiga sikap menghadapi
keterbelakangan dalam bidang ilmu pengetahuan tersebut sebagai berikut.
a)
Sikap yang
didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari barat sebagai
ilmu pengetahuan yang sekular dan harus ditolak.
b)
Sikap yang
didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari barat sebagai
ilmu yang bersifat netral. Karenanya ilmu tersebut harus diterima apa adanya
tanpa disertai rasa curiga dan sebagainya.
c)
Sikap yang
didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari barat sebagai
ilmu yang bersikap sekular dan materialisme. Namun dapat diterima oleh umat
islam dengan terlebih dahulu dilakukan proses islamisasi.
Ketiga sikap tersebut satu dan lainnya memiliki pengaruh sendiri
sendiri dimasyarakta dengna segala implikasinya. Sutdi dalam bab ini adalah
penjabaran lebih lanjut dari sikap yan gketiga sebagaimana tersebut diatas,
yaitu sikap mengislamkan ilmu pengetahuan.
Islamisasi ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah suatu upaya
untuk mentransformasikan nilai nilai keislaman ke dalam berbagai bidang
kehidupan manusia, khususnya ilmu pengetahuan. Dengan Islamisasi ilmu
pengetahuan dapat diketahui dengan jelas, bahwa islam bukan hanya mengatur segi
segi ritualitas dalam arti shalat, puasa, zakat, dan haji melainkan sebuah
ajaran yang mengintegdrasikan segi segi kehidupan duniawi termasuk ilmu
pengetahuan dan teknologi. Ditengah tengah masyarakat yang masih dilanda krisis
dalam berbagai bidang kehidupan seperti sekarang ini, islamisasi ilmu
pengetahuan semakin dipandang relevan
daya antisipatifnya.
Ditengah tengah perdebatan disekitar setuju atau tidak setuju
dengan islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, tampaknya islamisasi ilmu
pengetahuan tersebut pada akhirnya merupakan suatu keharusan. Lahirnya industri
perbankan yang berbasiskan syariat seperti yang dipraktikkan pada bank muamalat
Indonesia (BMI), bank Syariah Mandiri, dan sebagainya menunjukkan pentingnya
nilai nilai islam terintergrasi dalam sistem perekonomian yang dikembangkan
masyarakat. Demikian pula praktik kehidupan kenegaraan yang semakin menuntut
perlunya ditegakkan asas keadilan, kejujuran, demokrasi, transparasi, dan
sebagainya menunjukkan bahwa nilai nilai islam perlu
diintegrasikan ke dalam praktik kenegaraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar